My Treasures

Tags

, , ,

I love music. Since childhood, I live, breath, and consume music on a daily basis, but I have a zero talent in playing instrument or even in singing a song.  In the middle school and high school, I’ve learned to play instrument and co-founded a band with my cousins and friends. We practice every weekend or after school for competition or just for having fun, basically covering some popular songs. In university, I started to listen to alternative, punk and oldies, so I grew a fondness over a new kind of genre that completely new to me at that time, so I started to write lyrics and cover some songs. Here are some of the songs that I’ve recorded by using a modest instruments that I could borrow and a modest recording software in my laptop (including 2 songs recorded for  personal project with cousins). Please enjoy!

Advertisements

Rihanna di edisi gratis perdana NME

Tags

, , , , ,

rihanna-nme-cover-free-430x560

New Musical Express (atau lebih dikenal dengan NME) adalah sebuah majalah musik populer dari Inggris yang telah terbit sejak Maret 1952. Perjalanan NME sudah tidak asing lagi di belantika industri musik Inggris maupun dunia. Dan pada tahun 1996 NME juga merilis situs resmi mereka di internet. Beberapa musisi telah menghiasi cover majalah ini dan membuat kontribusi besar dalam sejarah musik.

Pada Juli 2015, NME telah mengumumkan bahwa mereka akan mengeluarkan edisi cetak gratis pertama mereka dan juga membuat format baru dari segi web design, printing design, dan juga subscriber-nya. Di edisi cetak gratis pertama itu akan menampilkan Rihanna sebagai cover, dan akan diedarkan pada 18 September 2015. Cover tersebut memperlihatkan Rihanna menatap tajam sambil menghembuskan asap rokok dengan memakai kaos bertuliskan Free.

Seperti dilansir situs http://www.magazinesdirect.com, majalah ini akan didistribusikan sebanyak 300 eksemplar secara nasional di seluruh Inggris. Majalah ini akan didistribusikan di stasiun-stasiun, kampus, dan juga pengecer. NME is already a major player and massive influencer in the music space, but with this transformation we’ll be bigger, stronger and more influential than ever before, jelas Mike Williams, editor NME.

Sumber:

http://www.magazinesdirect.com/az-magazines/n/6756/nme.thtml

http://www.nme.com/news/various-artists/86702

http://creativedisc.com/2015/09/rihanna-menjadi-cover-majalah-nme-edisi-gratis-pertama-mereka/

Menghilangnya Karya Emas Bob Dylan di YouTube

Tags

, , , ,

Bob-Dylan-Like-a-Rolling-Stone

Siapa yang tak kenal Bob Dylan, terlahir sebagai  Robert Allen Zimmerman di Minnesota, Amerikat Serikat 74 tahun yang lalu. Bob Dylan yang sampai sekarang telah mengeluarkan lebih dari 30 studio album adalah seorang ikon perjuangan Amerika di era 60an.

Sejak usia dini, Dylan telah mendengarkan lagu-lagu rakyat (folk) dari Woodie Guthrie, Robert Johnson, Hank Williams dan Little Richard. Hal tersebut membuatnya berpikir dan kemudian mencoba menulis materi sendiri setelah mencoba memainkan beberapa lagu cover dengan bandnya sendiri di sekolah. Kemudian dia merubah namanya menjadi Bob Dylan, Dylan yang diambil dari penyair Dylan Thomas, dan Bob dari nama sapaannya.

Di usia ke 21, Dylan mengeluarkan album pertama yang sangat kental dengan nuansa folk. Ia juga telah menulis beberapa lagu yang menjadikannya ikon folk di Amerika. The Times they Are A Changing, Blowing in the Wind, Like A Rolling Stone adalah tiga dari beberapa lagu ciptaannya yang menjadi lagu wajib bagi masyarakat Amerika 60an yang sarat akan protes perang Vietnam dan gerakan hak-hak sipil.

Beberapa kejadian dalam hidupnya juga telah mengubah pandangannya dalam bermusik, mulai dari perpindahan gaya musik sampai dengan kecelakan sepeda motor yang dialaminya. Walau pun pamor Dylan sebagai ikon telah redup dan bertahun-tahun telah berlalu, ia tetap menunjukkan kreatifitasnya sebagai seorang penyair dan musisi dengan menghasilkan karya-karya yang tidak kalah dengan musisi-musisi muda di zaman modern ini.

Seiring dengan perkembangan zaman dan teknologi, terutama bagi penikmat musik dengan kemunculan YouTube di tahun 2005, para fans Dylan kembali membuka lemari penyimpanan mereka yang berisi harta karun lagu-lagu lawas Dylan yang tidak lekang oleh waktu. Mereka kemudian mulai mengunggah lagu-lagu maupun video penyanyi kesayangan mereka.

Namun sayang disayangkan, pada 2009, Sony Music Entertainment, label rekaman tempat Dylan berlabuh harus menarik kembali beberapa video-video unggahan fans Dylan yang telah mencapai 110.00 video menjadi 65.000 video. Video-video tersebut termasuk unggahan album, lagu dan juga video official Dylan.

Sebuah artikel blog yang membahas mengenai masalah ini menulis It’s not that Bob Dylan doesn’t like his fans or their videos. His label Sony thinks it’s losing advertising money when we watch videos that they don’t control. Artikel yang ditulis oleh Stephen Pate itu membahas mengenai Sony yang telah menarik video-video mengenai Dylan, baik lagu maupun dokumentasi.

Hal ini dilakukan agar Sony tidak kehilangan royalti dalam pendistribusian karya-karya Dylan. Mereka juga membuat channel Bob Dylan khusus yang bekerja sama dengan vevo dan hanya mengunggah video-video konser, dan juga video clip Dylan terbaru di https://www.youtube.com/user/BobDylanVEVO/videos, yang notabene tidak memperlihatkan rekaman asli Dylan yang banyak dicari orang di YouTube secara gratis, yaitu rekaman di masa keemasannya.

Hal ini sangat disayangkan karena sekarang, internet telah menggantikan buku dan juga media lain seperti kaset, cd dan bahkan mp3 yang tidak akan pernah ditemukan oleh anak-anak yang tumbuh di dekade 80an dan awal 90an. Generasi muda sekarang seharusnya tidak dihadapkan pada situasi dimana mereka tidak dapat mendengarkan karya-karya terbaik Dylan, karya-karya yang menginspirasi banyak musisi untuk beberapa generasi kedepan.

Sumber:

http://njnnetwork.com/2010/05/incredible-shrinking-world-of-bob-dylan/

https://en.wikipedia.org/wiki/Bob_Dylan#Origins_and_musical_beginnings

https://www.youtube.com/user/BobDylanVEVO

Terlalu Bebasnya “Media Informasi” di Indonesia

Tags

, , ,

iphone6_2988853b

Media cetak dan daring (online) merupakan sesuatu yang tak asing lagi bagi masyarakat Indonesia. Perkembangan media di Indonesia bisa dikatakan tidak luput dari campur tangan media luar. Dengan penduduk lebih dari 250 juta jiwa dan juga budaya konsumtif, masyarakat Indonesia modern dapat dikatakan menjadi target operandi negara-negara adidaya media seperti Amerika Serikat, Inggris, dan lain-lainnya.

Sosial media (sosmed) adalah salah satu kekuatan Amerika yang tak dapat ditolak oleh jiwa-jiwa konsumtif seperti masyarakat Indonesia. Dengan menjamurnya pemakaian smart phone di Indonesia, aplikasi-aplikasi seperti Facebook, Twitter, Path, Instagram, Line, dan bahkan aplikasi instant messaging seperti BBM dan WhatsApp merupakan sesuatu yang lumrah dan bahkan wajib bagi pengguna smart phone di Indonesia.

Penggunaan aplikasi tersebut dapat mempermudah pengguna smart phone dalam mengakses informasi dan menyebar luaskannya di Internet yang bahkan bisa berujung pada fenomena yang tak lazim atau bahkan tindak pidana. Dengan diberlakukannya UU ITE (Informasi dan Transaksi Elektronik) No 11 Tahun 2008, penggunaan sosial media sebagai wadah informasi pun semakin dapat dikontrol oleh pemerintah.

Beberapa contoh betapa sosial media dan juga media online dapat mempengaruhi kebebasan berdemokrasi di Indonesia adalah seperti kasus kasus Florence Sihombing yang terang-terangan menghina Kota Yogyakarta di akun Path pribadinya, beberapa kasus penghinaan di Facebook yang berujung pada tuntutan dan penahaan, kicauan Farhat Abbas di Twitter yang cenderung provokatif dan menyinggung satu atau beberapa pihak. Dan yang terbaru adalah tersebarnya foto Kartu Tanda Penduduk (KTP) seorang warga Jawa Timur, Indonesia bernama Tuhan di sosial media. Kontroversi nama Tuhan tersebut kemudian menyulut kemarahan MUI Jawa Timur yang kemudian meminta agar KTP orang bersangkutan dicabut dan tidak diperbolehkan mengakses layanan publik.

430335_620

Apa yang salah dari semua itu? Apakah ini merupakan sebuah kebebasan informasi yang sama seperti diusung oleh Amerika Serikat? (walaupun cuma dipermukaan), atau ini adalah jenis media informasi seperti apa yang Chomsky jelaskan di dalam bukunya Media Control: the Spectacular Achievement of Propaganda, dimana dia menjelaskan bahwa media merupakan sebuah propaganda yang digunakan pemerintah agar masyarakat dapat jadi penonton dan duduk manis sementara hanya pemerintah (orang-orang pintar dan berpotensi) yang dapat mengatur dan menentukan apa yang terbaik untuk negara.

WhatsApp-UK-Changes-WhatsApp-Banned-Investigatory-Powers-Bill-UK-Ban-WhatsApp-Snoopers-Charter-David-Cameron-590776

Contoh lain adalah, penggunaan aplikasi instant messaging seperti WhatsApp di Inggris yang rencananya akan dilarang oleh pemerintah Inggris. Proposal pelarangan ini disebut The Communications Data Bill dan dibuat oleh Menteri Dalam Negeri Inggris Theresa May, seperti yang dikutip dari The Telegraph (July 13, 2015) The Communications Data Bill proposed that communications service providers should store all details of online communication in the UK – including the time, duration, sender and recipient of a communication, and the location of the device from which it was made – for 12 months. Jika WhatsApp tidak mau menyerahkan seluruh data percakapan atau pun data-data lainnya ke pemerintah Inggris, maka pemerintah akan melarang penggunaan WhatsaApp di Inggris.

Beberapa contoh di atas dapat dikategorikan sebagai keunggulan dan kelemahan bebasnya pengaksesan media informasi yang nantinya dapat menjadi momok tersendiri bagi si pengaksesnya maupun pihak-pihak institusi seperti pemerintahan. Pemerintah Indonesia seharusnya dapat memilah mana yang dikategorikan sebagai penyelewengan sosial media dan mana yang hiburan, dan mereka seharusnya dapat meniru Inggris yang ingin “melindungi” warga negaranya dari ketergantungan  sosial media seperti aplikasi WhatsApp yang merupakan produk Amerika, dan pemerintah Inggris ingin mempunyai hak khusus dalam privasi data, sehingga data mereka tidak dapat diakses oleh negara lain.

Sumber:

http://www.telegraph.co.uk/technology/social-media/11736230/Will-WhatsApp-really-be-banned-in-the-UK.html

http://baranews.co/web/read/20541/25.kasus.status.di.media.sosial.yang.berujung.ke.ranah.hukum#.Vd2Ynm4XXD1

http://nasional.tempo.co/read/news/2015/08/25/058694737/heboh-pria-bernama-tuhan-mui-minta-ktp-nya-ditarik

Chomsky, Noam. Media Control: the Spectacular Achievement of Propaganda 2nd Edition. New York: Seven Stories Press, 2002.

Honey

  1. 1.
    a sweet, sticky, yellowish-brown fluid made by bees and other insects from nectar collected from flowers.
    • a yellowish-brown or golden color.
      “her honey skin”
    • any sweet substance similar to bees’ honey.
  2. 2.
    informal
    an excellent example of something.
    “it’s one honey of an adaptation”
    • darling; sweetheart (usually as a form of address).
      “hi, honey!”
      [as form of address] mainly US a name that you call someone you love or like very much: Hi, honey, I’m home!

That Sugar Film (2014): ‘Penting’-nya Gula Dalam Kehidupan Modern

Tags

, , , , , ,

“Sugar has become so prevalent in today’s society, that if you removed all items containing it from a standard supermarket shelf, just 20% of items remain.”

Kalimat di atas adalah sebuah kutipan dari Damon Gameau, seorang aktor dan sutradara asal Australia di film dokumentar terbarunya yang berjudul “That Sugar Film”. Film dokumenter ini mengambil tema pengaruh gula dalam kehidupan manusia modern, khususnya gula yang telah diproses menjadi produk-produk minuman dan makanan yang dapat kita temukan di setiap pelosok supermarket di tempat tinggal kita.

thatsugarfilm2Di film ini Gameau menjadikan dirinya sebagai tikus percobaan (Lab Rat), dimana dia melakukan eksperimen dengan mengkonsumsi 40 sendok teh gula setiap harinya dalam produk-produk olahan yang seharusnya menyehatkan seperti yogurth buah, jus, sereal, minuman energi, dll selama 60 hari. Dia tidak mengkonsumsi produk-produk seperti softdrink, es krim, cokelat, kue, dll yang biasanya dinilai mengandung kadar gula yang tinggi (dengan tetap melakukan olahraga rutin setiap harinya).

Eksperimen ini telah diawasi oleh beberapa ahli kesehatan dan nutrisi yang akan mengukur dampak kesehatan Gameau setelah dia melakukan eksperimen itu.

that-sugar-film-damon

Setelah 60 hari mengkonsumsi produk-produk olahan sehat tersebut, Gameau merasakan dampak baik di dalam maupun di luar. Dia mengalami kerusakan kulit, sulit berolahraga, sulit tidur, berat badan naik 8,5 kg, lingkar pinggang bertambah 10 cm, suasana hati yang ekstrim dan gejala diabetes.

Hasil ini mengindikasikan bahwa walaupun kita telah mengontrol pola makan kita dengan produk-produk sehat seperti yang telah dianjurkan oleh ahli kesehatan ataupun nutrisi, kita tetap tidak bisa menghindari serangan asupan gula yang dapat mempengaruhi kalori, lemak dan perasaan kita.

Tidak hanya bereksperimen, Gameau juga melakukan perjalanan ke berbagai wilayah seperti ke Australia bagian utara, di mana dia menemukan kota kecil berpenduduk 350 jiwa dengan mayoritas penduduk suku aborigin telah mengkonsumsi 40.000 liter softdrink per tahunnya, yang bagaimana berdampak pada kesehatan dan menjadi penyebab nomor satu kematian penduduk sekitar.

Di Amerika, Gameau bertemu dengan seorang dokter gigi yang mempunyai seorang pasien remaja berjuluk “Mountain Dew Mouth”. Remaja ini rutin mengkonsumsi 6-15 kaleng softdrink khususnya “mountain Dew” sejak balita dan telah menyebabkan pertumbuhan giginya terganggu gara-gara kandungan gula dalam minuman tersebut.

31THATSUGAR-master675Film ini cukup mendidik dan menghibur dengan tingkah konyol dan narasi Gameau yang seperti Willy Wonka di pabrik cokelatnya dan juga penggunaan teknologi animasi yang membuat film ini cocok ditonton oleh para orang tua dan anak-anaknya yang perlu pembelajaran lanjut tentang perlunya pembatasan dalam mengkonsumsi gula atau juga produk-produk yang mengandung gula, terutama demi kesehatan kita.

Sumber:

http://variety.com/2015/film/reviews/that-sugar-film-review-1201539236/

http://primedforyourlife.com/2015/03/20/you-simply-must-watch-that-sugar-film-its-life-changing/

http://www.theguardian.com/film/2015/mar/03/that-sugar-film-how-60-days-eating-health-food-led-fatty-liver-disease

19 and Life

What would you do in your prolific age,
Still standing behind a loaded truck,
Let’s let’s let’s joining the salvation army,
While you vigorously filled with doubt and anger,
I’ll be standing here besides your past,
With an understandable manner,
Waiting for you to grow up and changed,
A beauty in a veil.

Google Doodle merayakan 101/100 tahun traffic light

101st-anniversary-of-the-first-electric-traffic-signal-system-5751092593819648-hp

Sumber: google.com

Hari ini tepat 101 tahun yang lalu lampu lalu lintas (traffic light) mulai diperkenalkan sebagai pengatur lalu lintas di jalanan, seiring dengan produksi mobil sebagai pengganti tenaga kuda. Google merayakan hari ini dengan membuat gambar gif pada laman situsnya. Lampu lalu lintas pada laman tersebut hanya terdiri atas dua warna lampu, hijau dan merah.

Sebenarnya, lampu lalu lintas pertama telah diperkenalkan di London, tepat di luar gedung parlemen Inggris diakhir abad 19. Lampu lalu lintas ini masih dioperasikan secara manual oleh polisi lalu lintas dengan sistem gas, namun proyek tersebut tidak bertahan lama setelah pada tahun 1869 terjadi kebocoran pada tabung gas yang menyebabkan ledakan dan menciderai operator lampu tersebut.

Lebih dari tiga puluh tahun setelah itu, seorang warga negara Amerika telah menikmati kesuksesan dari lampu lalu lintas yang dioperasikan dengan sistem elektronik. Lester Wire, seorang mantan detektif dari Salt lake City, Utah, Amerika Serikat mempunyai ide yang merevolusi lampu lalu lintas pada tahun 1912.

Tepat pada 5 Agustus 1914, perusahaan Amerika yang bernama “American Traffic Signal Company” mulai memasang sistem lampu lalu lintas modern pertama yang hanya mempunyai dua warna, yaitu merah dan hijau, di perempatan East 105th Street and Euclid Avenue di Cleveland, Ohio, Amerika Serikat.

Beberapa tahun setelah itu, lampu lalu lintas terus mengalami perkembang sesuai dengan zaman dan juga aturan-aturan yang berlaku di berbagi negara. Contohnya seperti di Amerika yang memasang tanda “Walk” dan “Do Not Walk” untuk mempertegas pengendara dan pejalan kaki tentang rambu-rambu tersebut.

Sejak tahun 1990, sistem perhitungan detik mundur mulai diaplikasikan di sistem lampu lalu lintas, sistem ini sangat berguna untuk mempermudah pejalan kaki mengestimasi apakah mereka mempunyai waktu untuk menyeberang jalan sebelum lampu tersebut berubah menjadi merah.

TRAFFIC LIGHT TREE SCULPTURE BY PIERRE VIVANT, WESTFERRY CIRCUS, CANARY WHARF, DOCKLANDS, LONDON, BRITAIN - 1999

Sumber: telegraph.co.uk

Mungkin lampu lalu lintas yang paling mengesankan yang pernah ada di jalan-jalan di dunia adalah “Traffic Light Tree”, yang dibuat oleh pematung Perancis Pierre Vivant pada tahun 1998.

Saat ini, lampu lalu lintas yang sangat canggih, menggabungkan simbol cahaya khusus untuk sepeda, trem dan bus. Beberapa juga memiliki sinyal yang khusus, memberikan prioritas untuk kendaraan darurat melalui pemancar yang mengirimkan gelombang radio, sinyal inframerah yang dapat diterima oleh sensor di lampu lalu lintas tersebut.

P.S.: Di beberapa media tertulis bahwa hari ini adalah perayaan ke 100 tahun, sementara jika dihitung secara seksama, hari ini adalah perayaan ke 101 tahun.

Sumber:

http://www.telegraph.co.uk/news/worldnews/northamerica/usa/11783634/Traffic-lights-100th-anniversary-When-was-the-first-traffic-light-installed.html